Memahami Sang Diri Jati

Tulisan ini disarikan dari Bhagavad Gita khususnya Bab 2 yang memberikan pondasi pemahaman tentang Sang Diri. Paling tidak akan memberikan gambaran umum tentang Bab 2 Bhagavad Gita dan diharapkan dapat membantu pendalaman pemahaman saat membaca sloka demi sloka.

Arjuna dalam keputusasaan, penuh keraguan dan kecemasan, bathinnya bergejolak mempertanyakan mana jalan yang benar. Kegundahan seperti ini juga kita alami. Pada saat-saat penuh ketidakpastian, kita semua berharap dan berdoa bahwa jawaban akan ditunjukkan kepada kita. Jawaban ini sendiri harus ditemukan didalam. Proses itu sendiri sangat penting, untuk mengantarkan ke pengembangan diri. Apa yang diperlukan adalah kepercayaan yang mendalam (sradha).

Seorang calon di jalan spiritual memang akan merasa bingung karena belum mengalami pencerahan, namun dengan usaha yang stabil dalam meditasi, dengan mengontrol pikiran dan indra dan menyerahkan ego, akan terciptalah kesadaran akan Sang Diri Jati.

Kebingungan, perasaan tidak berdaya dan kesedihan yang dialami dalam kehidupan ini karena kita dikondisikan oleh tubuh kita, pikiran dan intelek sehingga kita tidak mengenali Sang Diri yang murni, Sang Diri sebagai tempat semua Kekuatan dan Kebijaksanaan. Dengan demikian, pengetahuan tentang sang Diri diperlukan untuk pembebasan kita. Ini adalah esensi pengetahuan yang dimaksudkan dalam Bhagavad Gita.

Sri Krishna menyampaikan kepada Arjuna bahwa mereka yang bijaksana (prajnas sthita) hidup dalam kesadaran bahwa mereka bukanlah tubuh fana ini, tetapi Atman. Mereka melihat diri sama di semua orang.

Sang jiwa mengalami masa bayi, kanak-kanak, remaja dan usia tua di dalam tubuh ini. Sang pengamat kebenaran tahu bahwa yang tidak tetap tidaklah nyata; yang nyata adalah yang kekal. Sang Diri tidak pernah lahir, juga tidak binasa, tidak berubah keberadaannya dan akan tetap ada. Sang Diri kekal dan tak terbatas. Sang Diri tidak lahir, abadi, permanen, ada sejak masa yang lampau. Hal ini di luar semua pikiran dan melampaui segala perubahan. Tidak mati ketika tubuh mati. Sama seperti seseorang yang melepaskan pakaian usang dan menggantikannya dengan yang baru, begitu juga jiwa yang melepas tubuh usang dan mengambil tubuh yang baru. Kematian adalah untuk hidup, seperti kelahiran kembali dari seseorang yang mati. Jadi, jangan berduka untuk sesuatu yang tidak terelakkan. Dunia ini tampak nyata dari sebelumnya yang tidak nyata dan akan kembali menjadi tidak nyata. (Sloka BG 2.13-2.25).

Krishna, setelah memberikan Arjuna Kebijaksanaan Sankhya (logika pemikiran dalam filsafat), menjelaskan kepadanya metode untuk mencapai Kebijaksanaan itu, melalui Yoga.

Pembelajaran yang benar tentang evolusi seseorang adalah pemahaman yang benar tentang Sang Diri. Kebijaksanaan Agung tersebut dicapai bukan dengan teori-teori filsafat atau ajaran teoritis, tetapi melalui pencarian terhadap tujuan Sang Diri Jati dengan konsentrasi fikiran yang terpusat. Para calon penekun spiritual yang sejati, dengan pikiran terfokus sepenuhnya pada Tuhan, menerima sang guru sejati yaitu Sang Diri Jati dan berusaha menuju kesadaran batin melalui meditasi.

Mereka yang terlibat dalam ritual untuk tujuan mencapai kesenangan dan kekuasaan, tetap terjerat dalam pemenuhan keinginan mereka dan kehilangan arah/menjauh dari kebijaksanaan spiritual. Orang bijak tidak terikat pada ritual/upacara untuk tujuan duniawi. Gita membimbing orang-orang agamamis ke tingkatan yang lebih tinggi.

Kewajiban anda hanyalah bekerja; namun bukan pada hasilnya. Janganlah hasil dari tindakan yang menjadi motif Anda, atau keterikatan Anda untuk tidak melakukan kerja. (Sloka 02.47)

Kemudian bagaimana tindakan dilakukan, jika tidak didasarkan oleh keinginan untuk mendapatkan hasil?

Bhagavan berkata, “Arjuna, lakukanlah kewajibanmu, teguhlah dalam Yoga, tinggalkan keterikatan dan seimbangkan diri akan keberhasilan dan kegagalan. Sikap seimbang itu adalah Yoga. (Sloka 2,48).

Para pencari perlu mendisiplinkan pikirannya untuk melepaskan diri dari dualitas, kesenangan dan penderitaan, keuntungan dan kerugian, keberhasilan dan kegagalan. Yoga adalah keseimbangan pikiran. Krishna mengatakan kepada Arjuna untuk membangun diri dalam yoga, dalam ketenangan. Ini merupakan pelajaran penting, bukan hanya untuk seorang calon spiritual tetapi untuk semua. Seorang individu dengan fikiran yang seimbang dapat menangani peristiwa yang menguntungkan dan tidak menguntungkan dalam kehidupan ini. Ketika seseorang tidak terlalu terpengaruh oleh hasil dari suatu peristiwa, dia dapat melihatnya dari kejauhan, meskipun dia masih menjadi bagian dari peristiwa tersebut.

Jika kita mengembangkan diri dalam Yoga, dengan penuh keteguhan, masing-masing dari kita akan menjadi lebih efektif dalam melakukan kewajiban dan yang lebih penting adalah menemukan kedamaian yang mendalam. Kita akan mampu melakukan penilaian dengan lebih jernih dan memiliki visi yang lebih luas jika kita tidak secara emosional terjerat akan hasil dari tindakan. Yoga adalah keterampilan dalam tindakan.

Apa yang akan didapat dari keseimbangan pikiran dan keterampilan dalam tindakan?

Kegiatan kerja yang didasari oleh keinginan akan membuat sang ego tertarik pada hasilnya, hal ini akan membangkitkan keinginan yang lebih besar dan siklus ini akan terus berlanjut. Tindakan tanpa pamrih, akan membuat ego menjadi teredam. Ketika tindakan tersebut dilakukan demi kebaikan untuk semuanya, tanpa perasaan “Akulah Pelaku”, maka hal itu akan mengarah pada ketidak-terikatan dan akan memurnikan pikiran untuk tujuan yang lebih tinggi yaitu meraih Pengetahuan dan pemahaman tentang Sang Diri, yang akhirnya membebaskan kita dari siklus kelahiran dan kematian.

Apakah ciri-ciri dari individu yang telah benar-benar mencapai kebijaksanaan dan jiwanya teguh?

Ketika seseorang menyerahkan semua keinginan pikiran dan ketika segenap jiwanya ada didalamnya, maka dia adalah individu yang teguh dalam kecerdasan (sthita-prajna). Dia, yang pikirannya tidak gentar oleh penderitaan dan tidak terikat dengan kesenangan; dia, yang bebas dari keterikatan, ketakutan dan kemarahan, ia disebut seorang dengan kebijaksanaan yang stabil. Dia, yang tidak bersukacita dalam keadaan baik atau berdukacita dalam keadaan buruk, mencapai kebijaksanaan. Seseorang yang teguh dalam kebijaksanaan menarik indrianya seperti kura-kura menarik kaki-kakinya ke dalam cangkangnya.

Pelaku spiritual dapat menjauhkan diri dari benda-benda sensorik, menghilangkan keinginan/kerinduan kepadanya. Mereka terbebas dari segala keinginan ketika mereka berpegang teguh pada Yang Maha Kuasa. Ketika seseorang telah mengalami kebahagiaan yang Agung, maka tidak akan ada lagi keinginan terhadap kesenangan indria yang bersifat sementara.

Namun, gejolak dari indria, dapat mempengaruhi pikiran bahkan pada orang-orang yang telah berjuang untuk menuju kesempurnaan.

Bagaimana seseorang dapat mengendalikan indria-indria-nya?

Radhakrishnan menulis bahwa disiplin diri bukanlah masalah kecerdasan, tetapi kehendak dan emosi. Hal ini dapat dicapai bila ada visi tentang Yang Tertinggi. Seseorang yang dengan terus-menerus berjuang dan menjaga fokus pada Yang Agung, akan mendapatkan kebijaksanaan. Tuhan Sri Krishna meminta Arjuna untuk tetap teguh dalam Yoga kepadaNya.

Apa yang terjadi ketika pikiran, bukannya mengendalikan indera, namun mengikuti indera?

Ketika seseorang memusatkan pikirannya pada objek-objek fikiran, ia mengalami keterikatan. Dari keterikatan akan terbercik keinginan, dan dari keinginan, datang kemarahan. Kemarahan akan menimbulkan delusi; khayalan yang menyebabkan hilangnya memori, ia tidak bisa lagi belajar dari kesalahan masa lalu; Hilanglah kekuatan untuk memilih antara yang bijaksana dan tidak bijaksana; hancurnya diskriminasi ini mengarah pada kebinasaan. (Sloka 2.62 – 2.63)

Di bawah keinginan indria yang liar, pikiran, seperti perahu yang terombang-ambing di air yang tidak tenang. Hanya dengan fikiran yang tenanglah kita mampu melakukan evaluasi atau menerapkan diskriminasi intelektual untuk menghadapi masalah kehidupan sehari-hari.

Individu yang terikat pada indria, asyik dalam kenikmatan materi tetap tidak akan menyadari Sumber Cahaya yang di dalam. Dia memproyeksikan ketidaksempurnaan pikirannya untuk dunia luar dan melihat dunia melalui lensa dengan berbagai warna. Hal ini menimbulkan kegelisahan dan ketidakseimbangan dalam hidupnya. Di mana tidak ada ketenangan pikiran, bagaimana bisa ada kebahagiaan?

Sloka di atas menjelaskan emosi manusia yang sangat mendasar dan universal dan bagaimana hal-hal tersebut menjadi kendala dalam pengembangan diri.

Sebaliknya, bagaimana seseorang mengendalikan diri untuk mengarahkan hidupnya?

Seseorang yang mantap di tengah-tengah dunia objek-objek indria, dengan indria yang terkendali, bebas dari keterikatan dan keinginan, ia mencapai kemurnian hati dan kedamaian dimana semua kesedihan berakhir. Dia hidup dalam kebijaksanaan Sang Diri. (Sloka 2.64 – 2.65).

Gita tidak menganjurkan asketisme (doktrin dengan melakukan penyangkalan-diri), tetapi pengendalian diri, melatih pikiran, tubuh dan indria.

Sama seperti air yang mengalir dari segala arah ke laut, tidak akan mengakibatkan perubahan pada luasnya laut, begitu juga dengan “aliran keinginan” yang “diserap ke dalam lautan Sang Diri.”

Dia yang menolak semua keinginan egois dan bertindak bebas dari kerinduan, dia yang melepaskan diri dari sangkar ego, mencapai kedamaian. Ketika ego hilang, “orang yang mengetahui Kebenaran, dalam pengalaman diri yang luar biasa akan menjadi Sang Diri Jati”. Ini adalah keadaan Penyatuan dengan Brahman (brahmisthiti). “Arjuna, mencapai ini dan lulus dari kematian untuk keabadian (brahmanirvana).” (Sloka 2.71-2.72).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s