Yoga Kegelisahan Arjuna

YOGA KEGELISAHAN ARJUNA

Disarikan dari Bab-1 Bhagavad Gita

Ada yang  menyangsikan Bhagavad Gita sebagai kitab suci karena isinya menganjurkan peperangan. Mungkin sebagian dari kita dalam hati punya pertanyaan yang sama kenapa Bhagavad Gita menceritrakan perang? Bukankah perang isinya kekerasan dan pembunuhan? Atau pertanyaan lainnya, kenapa Sri Krishna membiarkan terjadinya perang? Apa susahnya bagi Krishna untuk mempengaruhi Korawa agar tidak terjadi perang?

Kita bisa maklumi pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena yang bersangkutan belum  membaca dan memahami isi dari Bhagavad Gita secara utuh. Kembali ke diri kita masing-masing, sejauh mana kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas?

Lebih dalam lagi, kenapa kegelisahan Arjuna menjelang terjadinya perang dinyatakan sebagai “Yoga” ? Atau kenapa kegelisahan dinyatakan sebagai jalan penyatuan dengan Tuhan?

Ketika Arjuna melihat guru terhormat, paman-paman, sepupu, kerabat dan teman-temannya di pihak musuh, hatinya hancur dilanda kesedihan dan mulai berbicara dengan Krishna (Tuhan) tentang kesia-siaan perang. Dia meletakkan busur dan anak panah dan menolak untuk terlibat dalam perang yang akan membuat dia membunuh sanak-saudara dan kerabatnya. Perang memiliki implikasi terbunuh atau membunuh, suatu kondisi yang penuh emosi, kesedihan dan ketakutan terbesar bagi mahluk hidup.

Hanya di saat krisis, dalam kesedihan dan penderitaan yang mendalam, dalam kondisi antara mati dan bertahan hidup, kita akan bertanya kepada diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan mendasar dan abadi tentang untuk apa kita ada di sini, apa arti dari kehidupan ini, kemana kita pergi setelah dari kehidupan ini.

Arjuna, adalah manusia yang ingin menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang benar-benar mengganggunya. Keadaan putus asa dan kekacauan batin ini disebut “Yoga” karena ini adalah suatu keadaan yang akan memicu seseorang untuk menyadari dirinya, mengetahui sang Diri yang sebenarnya. Keadaan yang akan mengarahkan ke hilangnya keterikatan dan hilangnya nafsu, yang merupakan langkah pertama untuk mengetahui Sang Diri.

Bhagavad Gita menyajikan pembelajaran secara bertahap dengan pondasi yang kokoh pada bab-bab awal.

Kondisi perang, adalah keadaan extrem dengan pilihan terbunuh atau membunuh, segala atribut yang kita miliki menjadi tidak relevan, dalam keadaan menjelang kematian, apa lagi yang perlu ditakuti?

Memahami hal ini kita akan sadari kenapa Bhagavad Gita menceritakan kondisi sesaat terjadinya perang.

Dalam upaya untuk melakukan sadhana, seseorang harus mempersiapkan diri dan ini adalah esensi dari Bab 1 Bhagavad Gita. Pemahaman akan Bab ini adalah pondasi untuk ke tahap-tahap berikutnya dan oleh karenannya hal ini disebut “Yoga”. Selama kita tenggelam dalam ilusi, kita tidak akan sadar untuk melangkan ke arah yang benar.

Pandangan terhadap perang, kekerasan, kesedihan, keterikatan akan kaum, keluarga adalah hal-hal yang sengaja didramatisir dalam bab-bab awal dari BG.

Bhagavad Gita, memberikan penggambaran yang mudah dimengerti untuk khalayak ramai dan mengandung simbolis untuk nilai-nilai yang perlu digali.

Dengan adanya unsur simbolis dalam sloka-sloka Bhagavad Gita, pertanyaan kemudian bergeser menjadi:

Apakah pertempuran dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi pada medan-perang spiritual tubuh dan fikiran manusia?

Jawaban dari pertanyaan tersebut:

  1. Perang dalam menegakan kebenaran: sebuah instrumen untuk kedamaian,
  2. Perang bathin: Pengembangan Diri,
  3. Perang sebagai Simbol Yoga Pertempuran Spiritual.

1. Perang kebenaran: sebuah instrumen untuk kedamaian,

Dharma Arjuna (sesuai dengan sifat dasarnya) mengharuskan dia untuk terlibat dalam pertempuran, karena itu adalah tugas yang mulia sebagai Ksatria (prajurit) untuk membangun masyarakat yang damai dan adil. Perang ini bukanlah konflik ambisi. Ini adalah perang antara prinsip-prinsip luhur dengan ambisi pribadi.

Sri Krishna mengingatkan Arjuna akan svadharmanya: “Dengan memperhatikan tugasmu sendiri, kamu tidak perlu goyah; tidak ada kebaikan yang lebih besar bagi seorang Ksatria (prajurit) daripada perang untuk membela kebenaran. “(Sloka 02:31)

“Jika Anda tidak bertempur dalam perang kebenaran ini, maka dengan meninggalkan svadharma dan kemuliaan ini, Anda akan mendatangkan dosa.” (Sloka 2.33)

Ketika dalam perjuangan antara benar dan salah, seseorang yang tidak melakukannya, terlepas dari sentimentalitas, kelemahan atau kepengecutan, akan melakukan dosa. (S. Radhakrishnan). Krishna mendesak muridnya, Arjuna untuk bertempur dalam perang dharma melawan adharma, untuk menegakkan kebenaran.

“Memberlakukan dengan cara yang sama antara kesenangan dan kesedihan, keuntungan dan kerugian, kemenangan dan kekalahan, terlibat dalam pertempuran besar ini, Anda tidak akan mendatangkan dosa”, sabda Sri Krishna. (Sloka 02:38)

Krishna menjamin Arjuna bahwa mati dalam pertempuran akan lebih baik daripada hidup dalam ketidakbenaran.

2. Perang bathin: Pengembangan Diri

Korawa, seratus jumlahnya, mewakili kecenderungan keji dan dosa yang tak terhitung dalam diri kita. Pandawa, lima jumlahnya, adalah impuls ilahi dalam pikiran manusia. Swami Chinmayananda sangat indah menulis terjemahan dari Gita bahwa “Perang secara terus-menerus berlangsung dalam diri kita pada setiap saat-saat penting dari suatu tindakan.”

Impuls negatif kadang-kadang tampak lebih kuat dibandingkan dengan tentara ilahi sang diri. Pada saat genting ini, seseorang cenderung merasa putus asa seperti yang dirasakan Arjuna.

“Ketika, pada medan spiritual pengembangan diri (Dharma-Kshetra), naluri rendah dan yang lebih tinggi berjajar, siap untuk bertempur, seorang pencari sejati, di bawah bimbingan-Nya dengan viveka diskriminatif (buddhi), membawa dirinya ditengah-tengah antara dua kekuatan untuk tujuan meninjau garis musuh, tanpa mengidentifikasi dirinya sebagai baik atau jahat.

Pada saat meditasi introspektif-nya, entitas egois datang untuk merasa putus asa dan merasa tidak mampu untuk melakukan petualangan spiritual dari pertempuran dalam diri untuk mengharapkan kemenangan.”

Paramahansa Yogananda memaparkan bagaimana setiap nama dalam epik Mahabharata, secara etimologis ditelusuri ke akar bahasa Sansekerta yang mencerminkan sifat psikologis manusia. Ayat pertama dari Gita dimulai dengan pertanyaan Raja Dhristarashtra yang buta (Buta Pikiran) meminta penasihat yang jujur dan dapat dipercaya serta kusirnya, Sanjaya:

Katakan padaku, Sanjaya, apa yang anak-anak-Ku dan anak-anak Pandu lakukan, ketika mereka berkumpul di medan suci Kurukshetra, bersiap-siap untuk berperang? (Sloka 1: 1)

Ini adalah pertanyaan masing-masing dari kita yang harus ditanyakan kepada diri sendiri: Bagaimana riak-riak mental dan kecenderungan rangsangan indria, dan kecenderungan diskriminatif, berkumpul, ingin bertempur untuk memenangkan tindakan dalam ladang badaniah ini? Tanyalah dengan penuh kesungguhan, untuk memberikan jawaban yang tidak bias dan jujur.

Hadirlah ditengah-tengah dan nilailah dengan jujur.

‘Sanjaya’ secara harfiah berarti ‘benar-benar menang’, ‘orang yang telah menaklukkan dirinya. “Dalam Gita, Sanjaya adalah pandangan ilahi. Paramahansa Yogananda menulis bahwa “analisis intuitif tentang diri, introspeksi yang cerdas” adalah kemampuan dari seorang pemuja “untuk berdiri di pinggir, mengamati diri tanpa prasangka apapun, dan sebagai hakim akurat.” (Yogananda, 2008)

Sanjaya, diberkati dengan pemandangan ilahi oleh Rsi Veda Vyasa untuk menceritakan peristiwa pertempuran Kurukshetra kepada orang buta Raja Dhritirashtra.

3. Simbol Yoga Pertempuran Spiritual:

Setiap saudara Pandawa menyerupai chakra dari dasar ke atas; dan istri mereka Draupadi, kekuatan Kundalini. Agar Kundalini bangkit, agar energi naik dari bawah ke chakra lebih tinggi, keterikatan terhadap masalah-kesadaran harus dibebaskan. Perang tersebut adalah perang antara dua kekuatan yang bertentangan, kecerdasan diskriminatif (buddhi) dan pikiran sadar indrawi (manas). Manas, terlibat dalam kegiatan sensorik, akan terbawa ke dalam “dunia relatif yang menyesatkan, maya”; sedangkan buddhi yang “menarik kesadaran kepada kebenaran”

Yang paling tangguh di antara semua kekuatan psikologis yang menghambat Jiwa dalam perjalanannya menuju penyatuan dengan Tuhan, adalah Ego. Ego diwakili oleh Bisma, yang merupakan kakek agung dari Korawa dan Pandawa, yang berjuang melawan kekuatan diskriminatif murni yang diwakili oleh Pandawa. Ego, lawan paling kuat yang menyatukan ketakutan terbesar dalam kekuatan spiritual, siap di pusat tulang belakang, berjuang menuju penyatuan dengan Sang Ilahi. Bisma berasal dari kata Sansekerta bhi, “menakut-nakuti”; dan dalam kisah Mahabharata, ia adalah panglima tertinggi seluruh tentara ‘indria’.

Sebuah analogi terkenal di Kathopanishad, tepat menggambarkan tubuh sebagai Kereta, yang ditarik ke depan oleh lima kuda, lima indria, masing-masing berlari sepanjang jalurnya, tertarik oleh rangsangan-benda. Manas atau pikiran mewakili kendali dari kuda yang “menerima impuls serta petunjuk” dari kusir. Pikiran merupakan karya dari kusir. Buddhi atau kecerdasan diskriminatif adalah kusir yang mengontrol dan membimbing kuda, sehingga mereka tidak berubah nakal. Jiwa adalah Master dari Kusir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s